Rabu, 20 Oktober 2010

Kehidupan Di pinggir Rel

           Dapat dilihat di zaman yang serba mewah ini masih banyak kehidupan yang masih perlu perhatian dari kita. khususnya pemerintah, eitz bukannya pengen nyindir sich tapi bisa dilihat sich banyak para pejabat yang punya tempat tinggal seperti istana itu hampir rata-rata semuanya. tapi apakah mereka melihat kaum bawah ini? tapi disini saya bukannya mau bahas soal pemerintah dan para pejabatnya takut diciduk ke kantor polisi nanti.... 

           ya saya disini prihatin walaupun kehidupan saya juga nggak bisa dibilang kaya sich tapi masih mampu. tapi bagaimana mereka, untuk tinggal aja dipinggir rel kereta api. pasti tau lah bagaimana kehidupan dipinggir rel untuk tidur aja susah kenapa ya bagaimana mau tidur kalau tiap kali kereta lewat bunyi dan getarannya sangat menganggu tapi itu mereka tetap lakukan tinggal dipinggir kereta api karena sudah tidak ada tempat lagi buat mereka yang hidup tanpa pekerjaan, itu juga kalau tidak kena gusur oleh pemerintah. mereka harus pindah mencari tempat tinggal lagi, dah kaya zaman purba yach mereka tinggal tidak bisa menetap lama (nomaden)selalu berpindah-pindah.

          Dapat dilihat dari gambar seorang anak yang terlihat ceria walaupun dia tau dia hidup tidak selacaknya anak seumuran dia yang masih senang bermain bagaimana mau main tempat mainnya saja sangat berbahaya mengancam jiwa direl kereta api gimana kalau kereta api exprez lewat bisa-bisa nyawapun lewat. tapi kita juga jangan terlalu menyalahkan pemerintah sich kenapa saya bilang seperti itu. ya pemerintah nggak sebodoh saya (ech ngaku jadi malu....) pemerintah juga sudah memberitahu masarakat yang berada didesa dengan iklan-iklan yang bisa dilihat di TV (bagi yang punya yach).

          Bahwa kehidupan di kota tidak semudah yang mereka bayangkan dan yang diceritakan oleh kerabat mereka yang sudah sukses di kota. karena di kota sangat kejam (lebih kejam ibukota dibanding ibu tiri) karena di kota untuk lulusan S1 saja susah mencari pekerjaan, bagaimana mereka yang dari desa dengan kemampuan tenaga saja betul nggak... (betulin yach kalau salah).yach jadi seperti gambar diatas jadi anak cucu mereka yang menderita akibat orang tuanya yang ingin mencoba sukses di ibukota tapi tidak disertai dengan pengalaman dan ilmu yang cukup. memang sich niat orang tua baik ingin yang terbaik buat anaknya.dah dulu yach cerita na sampai sini dulu..... maaf bagi yang tersinggung disini saya hanya ingin mengeluarkan pendapat saya....

Memilah Milih CD-R

Berhubung saya operator di salah satu warnet saya sering kedapatan diminta oleh pengunjung untuk membakar lagu. Eitz jangan salah paham dulu arti membakar disini  bukan bakar pake api melainkan proses burning . disini saya tidak membahas tentang proses burningnya namun tempat penyimpanan setelah burning.

Laser yang menyinari kepingan--> kepingan memantulkan sinar --> pantulan ditangkap sensor --> sensor menterjemahkan menjadi data. Begitulah kira-kira gambaran cara kerja CD_ROM/CD player. Prinsipnya memang mudah, tetapi kesempurnaan kualitas proses secara keseluruhan pula.


Apalagi jika menyangut CD audio kesalahan kecil dalam proses pembakaran akan mengakibatkan cacat yang mudah terdengar, mulai dari bunyi klik, skip, atau bahkan kepingan yang tidak dapat dibaca. Resiko kesalahan menjadi lebih besar jika CD Audio tersebut kita buat sendiri meggunakan kepingan CD-R.

Beda CD Audio dan CD-R

Untuk mendapatkan gambaran yang agak dalam, ada sebaiknya kita memahami dulu bagaimana sebenarnya data disimpan di sebuah CD. Pada dasarnya, pada permukaan CD terdapat daerah yang disebut pit dan land.  Pit adalah cekungan bebentuk lubang, sementara land adalah daerah datar disekitar pit. Saat disinari laser, pit tidak akan memantulkan sinar laser yang mengenainya, sementara land akan memantulkan sinar. Kombinasi antara sinar yang memantul inilah yang akan dibaca oleh sensor sebagai data.
Oleh seban itulah kemudian dikembangkan piringan CD-R untuk kalangan umum. Pada prinsipnya, CD-R juga memiliki pola pit dan land. Bedanya, pola tersebut tidak dibuat dengan cara ditekan, melainkan  dibakar atau ‘burning’. Proses burning dilakukan oleh CD-RW drive dengan cara memancarkan sinar laser dengan intensitas tertentu. Pancaran sinar tersebut cukup besar untuk membakar titik-titik tertentu pada piringan sehingga terbentuklah pola pit dan land.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kualitas hasil burning ditentukan oleh 3 hal : kualitas CD-RW drive, kualitas CD-R dan proses burning itu sendiri
"kebohongan membuat celaka diri sendiri"




Pilah pilih CD-R